Eksistensi Hijab Style di New Media






I.      Pendahuluan
Manusia pada dasarnya selalu mengalami perubahan-perubahan selama hidup, baik secara individu maupun secara kolektif dalam kehidupan bermasyarakat. Perubahan ini bagi sebagian orang merupakan hal yang sangat menarik untuk dilewati dan bersikap dinamis juga dinilai bermakna positif.
Perubahan-perubahan (Soekanto, 2006:259) itu dapat berupa perubahan dalam hal nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan, wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Dalam hal ini, perubahan pada gaya hidup kemasyarakatan mempengaruhi sistem sosial.
Perkembangan zaman dari masyarakat agrikultur menuju masyarakat industri hingga menjadi masyarakat informasi memang tak dapat dihindari. Mengapa? Karena budaya juga sudah mulai berubah paradigma sehingga setiap orang ingin mendapatkan sesuatu yang baru.  Seiring dengan hal tersebut menjadi perubahan-perubahan tren atau mode di dalam masyarakat memiliki konsekuensi, yaitu informasi menjadi sebuah power untuk mempersuasif masyarakat. Adanya kekuatan inilah, timbul sikap konsumerisme di kalangan masyarakat. Gelombang informasi yang didukung dengan revolusi teknologi  meluas begitu pesat sehingga terjadi overload informasi. Perubahan fashion menjadi sebuah keniscayaan seseorang untuk tampil menarik. Sadar ataupun tidak masyarakat sebagai objek life style mengalami perubahan baik pola perilaku, sistem sosial, nilai-nilai, termasuk world-view, cara pandang, dan ideologi.
Terminologi seperti information revolution, globalization, postmodern society mulai menjadi wacana-wacana intelektual yang menarik pasca penemuan komputer dan  new media ini. Hubungan sosial ataupun interaksi di dalam masyarakat berubah total dari sebelumnya. Dengan adanya perkembangan new media, seseorang dapat berkomunikasi dengan mudah, bisa dalam tulisan maupun foto yang dipajang di lembaran kertas internet.  Baru-baru ini interaksi sosial berpindah dari tempat-tempat yang real menjadi tempat-tempat yang semu atau maya. Tempat yang dapat disebut sebagai tempat abstrak, hingga banyak sekali penipuan yang terjadi. Kehadiran internet yang sangat praktis digunakan, membuat masyarakat lebih memandang internet sebagai bagian dari kiblat media yang paling banyak diminati.  
Dampak Globalisasi dan eksistensi melukiskan keterkaitan serta ketergantungan antarmanusia di dunia melalui perdagangan, investasi, budaya populer, life style dan bentuk interaksi lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi relatif. Hal ini digambarkan (Anthony Giddens) bahwasanya mayoritas umat manusia menyadari sebenarnya, setiap individu turut ambil bagian dalam dunia yang harus berubah tanpa terkendali, yakni  ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan terhadap hal yang sama, ketidakpastian dan realita sosial yang mungkin terjadi.
Seperti yang telah dijelaskan penulis, perkembangan masyarakat post-industrial, dengan dukungan teknologi dan revolusi informasi menjadikan hubungan antara manusia dan media semakin kompleks. Internet tidak lagi mengungkap gagasan dan perasaan manusia saja namun juga mengatur gagasan dan menata psikologis seseorang. Selain itu, internet juga membentuk masyarakat menjadi lebih pasif, konsumerisme yang tinggi, namun praktis, hingga mengonstruksi rasa dan persepsi masyarakat serta menetukan apa yang dikonsumsi masyarakat.
Manusia membentuk sebuah kelompok, seperti gank dan komunitas  agar tidak merasa sendirian. Sri Wiyarti (2007) menyatakan konsep Zoon Politicon, pada dasarnya  manusia adalah mahluk yang ingin selalu berinteraksi dan berkumpul sesama manusia lainnya. Hal ini merupakan sebuah kebutuhan dasar manusia yakni  sebagai makhluk sosial. Selain itu, bergaul dalam sebuah kelompok atau komunitas mempermudah manusia mengenal jati diri dan memperkuat identitas dirinya (eksistensi) di dalam masyarakat. Hal ini yang membuat mereka memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging) satu sama lain yang begitu kuat.
Melihat konteks Indonesia, komunitas lebih banyak hadir sebagai cerminan diri serta  wadah aktuliasasi maupun eksistensi diri. Lahirnya komunitas dengan basis budaya, kesukuan, etnik, hingga komunitas hobi, gaya hidup, serta komunitas fashion menjadi marak. Kecenderungan pergeseran tinjauan masyarakat postmodern salah satunya adalah gerakan berbasis komunitas yang sesuai dengan identitas dan pilihan pribadi. Kelompok mana yang membuat mereka nyaman dan memberikan kepuasan psikologis, maka itulah yang  akan mereka ikuti. Dalam hal ini, menghubungkan tinjauan postmodern dan perubahan masyarakat.
II.      Pembahasan
a.      Eksistensi
Kata eksistensi berasal dari kata Latin Existere, dari ex yaitu keluar dan sitere yakni membuat berdiri. Artinya apa yang ada, apa yang memiliki aktualitas, apa yang dialami. Konsep ini menekankan bahwa sesuatu itu ada. Definisi eksistensi merupakan bagian dari keberadaan seseorang terhadap lingkungannya. Eksis yang berarti tampil atau ada. Namun, hal ini sudah menjadi bagian yang lumrah ingin semua orang miliki. Karena keberadaan seseorang dapat dianggap apresiasi dari orang lain kepada dirinya.
Menurut Bapak Gerakan Eksistensialis (Kierkegaard) menegaskan bahwa yang pertama-tama penting bagi keadaan manusia yakni keadaannya sendiri atau eksistensinya sendiri. Ia menyimpulkan bahwasanya eksistensi manusia bukan berarti bersifat statis melainkan menjadi ada. Maksudnya, perpindahan dari kemungkinan menjadi kenyataan. Gerak ini adalah perpindahan yang bebas serta terjadi dalam kebebasan dan ke luar dari kebebasan. jadi manusia mempunyai kebebasan untuk memilih. Kierkegaard menekankan bahwa eksistensi manusia berarti berani mengambil keputusan yang menentukan hidup. Maka barang siapa tidak berani mengambil keputusan, ia tidak dapat hidup bereksistensi dalam arti sebenarnya.
Menurut Zainal Abidin (2008) Eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti, melainkan bersifat dinamis, fleksibel dan mengalami inovasi perkembangan atau sebaliknya kemunduran. Semuanya itu tergantung pada kemampuan individu dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya. Oleh sebab itu, arti istilah eksistensi analog yaitu ‘kata kerja’ bukan ‘kata benda’.
Dengan demikian eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti muncul dalam suatu perbedaan, yang harus dilakukan tiap orang bagi dirinya sendiri. Eksistensi adalah milik pribadi. Tidak ada dua individu yang identik. Oleh sebab itu, eksistensi adalah milik pribadi yang keberadaannya tidak bisa disamakan satu sama lain. Adapun persamaan definisi kata eksistensi yakni popularitas. Popularitas adalah suatu tingkat dimana membuat seseorang menjadi sangat terkenal karena karya atau sikap yang membuat setiap orang tertarik dan menjadi bahan trendsetter (Bahan yang selalu diikuti orang) maupun hipster, yakni orang yang memiliki karakter unik.
b.      Definisi Hijab
Saya akan memberikan sedikit uraian mengenai pengertian hijab. Singkat, tapi semoga dapat dimengerti. Hijab sebenarnya asal katanya berasal dari bahasa Arab. Menurut bahasa, hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi. Sedangkan menurut istilah syara’, al-hijab dimaksudkan sebagai suatu tabir yang menutupi badan wanita. Sedangkan menurut beberapa orang hijab artinya kerudung, namun berbeda dengan definisi dalam bahasa Al-Qur’an yakni pakaian yang menutup aurat, tidak tipis, berukuran besar atau longgar, dan ukuran baju panjang.
Sebenarnya jilbab dan hijab adalah benda yang berbeda. Jilbab adalah baju panjang yang  menutupi seluruh tubuh, Jilbab tentunya tidak membentuk tubuh wanita dan tidak transparan. Sedangkan hijab mempunyai makna benda yang menutupi sesuatu. Di tulisan ini, hijab yang dimaksud adalah kerudung sebagai penutup aurat, yaitu rambut wanita. Ada dalil lain mengenai syarat hijab dalam An-Nur ayat 31.
Adapun definisi lain dari hijab yaitu selembar kain yang digunakan untuk menutupi kepala melingkupi rambut, telinga, leher dan (biasanya) dada. pemakaian hijab juga disertai dengan menggunakan pakaian yang menutupi ujung kepala hingga ke ujung tangan dan kaki mereka. Dan ternyata hijab ini terbagi atas beberapa bentuk, antara lain:
1.      Niqab adalah penutup wajah yang bisa jadi menutup seluruh wajah dibawah mata, atau bahkan seluruh wajah. Dalam ibadah haji, Niqab tidak boleh digunakan.
2.      Shayla adalah selembar kain sejenis hijab yang banyak dipakai wanita di sekitar wilayah teluk. cirinya menutupi seluruh kepala dan dililit diatas bahu
3.      Al-amira adalah sejenis hijab yang terdiri dari 2 bagian, biasanya memiliki sejenis topi atau penutup bagian depan kepala.
4.      Khimer adalah hijab panjang yang menutupi seluruh dada dan hingga ke tangan.
5.      Abaya adalah pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh (jubah). pemakaian abaya biasanya yang disertai pemakaian kerudung/penutup kepala disebut dengan Jilbab. warna yang dipake biasanya hitam atau warna2 netral lainnya.
6.      Chador adalah kain panjang dan lebar yang digunakan seperti jubah. chador banyak digunakan di Iran.
7.      Burka adalah jubah yang menutupi mulai dari kepala hingga ujung jari kaki.
c.       Hijab Style
Kata Hijab style berasal dari kata bahasa inggris, yang berarti gaya hijab. fenomena hijab style mulai meramaikan media internet hingga banyak bermunculan wanita-wanita cantik bertebaran di dunia maya demi mengenalkan gaya jilbab yang semakin populer. Pesona hijab style sangat diminati oleh kaum remaja baik yang telah mengenakan hijab maupun yang belum mengenakan hijab. makna lain dari sebutan hijab style yakni hijab kontemporer. Di tahun ini telah semakin pesat perkembangan industry hijab style mulai dari bahan kain yang berbeda, corak, motif, warna, bentuk, ukuran, hingga perpaduan gaya jilbab yang dikombinasikan dengan lapisan lain.
Namun, dibalik maraknya fenomena tersebut, Ada dua hal yang membuat Hijab Style menjadi mitos. Pertama, kemampuannya dituturkan sebagai produk modernisasi gaya berjilbab. Kedua, kemampuannya menjadi pemenuhan hasrat perempuan akan kecantikan fisik semata. Penciptaan hijab style sebagai inovasi dari gaya berjilbab konvensional mengalami seleksi panjang. Ada bagian dari kostum jilbab yang diperlebar, dipersempit, bahkan dihilangkan, maupun ditambahkan. Inilah yang disebut komunikasi kebudayaan menurut Kusumohamidjojo.
·         Hijab Style Sebagai Mitos Modernitas
Di satu sisi hijab style menetapkan diri sebagai mitos modernitas fashion dan gaya berjilbab. Dengan hijab style, muslimah akan tampil cantik dan trendy. Di sisi lain ia membuat hijab style dipandang sebagai mode berbusana bukan sebagai pakaian yang wajib dikenakan oleh muslimah. Transendensi hijab menghilang sebab hijab sebagai penutup aurat yang sudah memiliki aturan baku dipinggirkan, diganti dengan definisi baru yang dimuat dalam citra kecantikan pengguna hijab style.
·         Hijab Style Sebagai Pemenuhan Hasrat    
Perubahan atau inovasi biasanya terjadi karena ketidakpuasan seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu. Pemikiran dinamis inilah yang mengakibatkan seseoran untuk mengubah diri terutama dari segi penampilan yang lebih ditonjolkan. Begitupun yang terjadi dalam kelahiran hijab style.
d.      Eksistensi Hijab Style di Internet
Sekarang ini fenomena untuk berhijab menjadi fenomena yang luar biasa. Seiring beputarnya waktu banyak wanita yang memperhatikan tentang hijab ini. Mereka (wanita) berbondong-bondong untuk tahu cara berhijab, mencari informasi tentang style hijab masa kini, hingga membentuk suatu komunitas untuk hijab.
Dalam dunia role fashion, kita menginginkan objek-objek bukan karena ketidakcukupan alamiah, melainkan ketidakcukupan yang kita produksi dan reproduksi sendiri (Amir Piliang, 2011:276). Ketidakcukupan dalam jilbab konvensional adalah ketiadaan kesan cantik dan trendy. Sebab tidak adanya tampilan keindahan maupun perubedaan warna pakaian. Kesan cantik dan modish ini adalah hasrat yang dimiliki perempuan. Mode berjilbab konvensional dianggap tidak memunculkan aura kecantikan penggunanya dan tidak sesuai dengan trend mode dunia. Jilbab lebih terkesan kuno, jadul, dan tradisional. Pada akhirnya, kesan ini yang membuat orang-orang belum berjilbab menjadi enggan berjilbab.
Hijab style mengakomodasi muslimah yang ingin berhijab tetap terlihat cantik dan sesuai dengan trand di dunia. Ini mengindikasikan bahwa gaya hijab sebelumnya yang dikenal sebagai jilbab konvensional tidak memunculkan keindahan dan kecantikan penggunanya. Oleh sebab itu, hijab style lahir. Kelahiran hijab style ini menjadi berita baik untuk perkembangan gerakan menutup aurat di Indonesia.
Ruang transendental yang kosong menjadi bagian dari mitos hijab style saat ini. Seperti yang ditawarkan oleh Hijabers Community, ruang ini diisi hanya sedikit dengan kajian keislaman. Beberapa dari merekapun juga menerbitkan bahwa dirinya memang seorang model muslimah. Namun, sangat disayangkan apabila, keislamannya masih sangat rendah. Seyogyanya kajian keislaman dapat membuat pengguna Hijab Style mampu beringsut dari hasrat terlihat cantik dan trendy menuju esensi hijab. Untuk mengisi kekosongan transendental diperlukan perubahan agar hijab sebagai pakaian tertulis tidak kehilangan landasan esensinya. Jangan sampai generasi mendatang tidak mengetahui makna hijab sebenarnya karena penggunaan hijab sebagai tanda ketaatan terhadap perintah agama kemudian dilesapkan oleh pemahaman hijab sebagai mode berpakaian.
e.       Opini Penulis Terhadap Eksistensi Hijab Style di Internet
Perkembangan mode atau fashion yang semakin marak, membuat kaum perempuan khususnya menjadi konsumtif, modernisasi, dan meningkatkan eksistensinya di dunia maya. Kehadiran hijab style membanjiri kaum muslimah untuk mengikuti tren tersebut. Tidak tertinggal pula mereka berusaha untuk mengeksploitasi jilbab dan kemudian dipamerkan kepada semua orang, namun banyak juga yang membagikan hasil karya hijab style ke orang lain dengan aneka warna serta dipadupadankan dengan pakaian hingga sepatu dan segala aksesorinya.
Selain menunjang keindahan bagi yang melihatnya, mereka umumnya juga tidak kalah berusaha membangun image yang baik melalui dunia maya sebut saja New Media. Dari kalangan artis seperti Ineke Koeserawati, Dessy Ratnasari, Marshanda hingga kalangan kelas masyarakat bawah juga tidak malu untuk mengekspos dirinya bahwa berhijab tidak menutup seseorang untuk jauh dari kecantikan, namun sebaliknya membuat seorang wanita nampak lebih anggun dan cantik dengan balutan busana sopan, yakni tertutup rapih. 
Peningkatan media internet komunikasi massa mengenai hijab style berperan sebagai penyaluran informasi kepada khalayak, ajang mendapatkan eksistensi, dan melihat hijab dari segi esensi semata yang ampuh untuk melakukan feedback terhadap viewers. Feedback yang dilakukan biasanya melewati situs jejaring sosial seperti twitter karena banyak terdapat unsur gambar sekilas dengan tagline yang unik dan menarik. Sajian khusus menawarkan kita untuk mengkonsumsi sejumah gaya-gaya terbaru dari hijab musiman  yang ada dan telah dipostingkan. Informasi via online mencakup lebih beragam mixing oufit dari sederetan fashion dengan layout menarik serta adanya kejernihan gambar. Hal ini akan membuat para pembaca mengetahui dengan jelas gaya terbaru apa yang hendak disampaikan. Misalnya saja melewati situs blog, dianrainbow.blogspot.com atau situs resmi dunia model yang menampilkan keindahan berjilbab seperti www.Hijmi.com atau www.hijab-style.co.uk. Media internet memang sangat membantu seseorang untuk bisa bereksistensi. Namun, beberapa keterbatasan yang dimiliki oleh media Internet belum bisa mencukupi seseorang untuk meningkatkan eksistensinya. Keberadaan Hijab style di Internet memang tidak dapat dipungkiri akan meningkat jauh daripada penggunaan hijab tanpa adanya unsur fashion.
Penambahan lain, internet yang digunakan sebagai bagian dari pencitraan diri seseorang berdampak besar pada bidang hijab style. Tidak hanya melalui berita atau majalah secara online hanya ditayangkan secara tertulis, akan tetapi masih ada video seperti Youtube yang menampilkan fashion show trend busana muslim maupun tutorial hijab atau THE FOLD sebagai penunjang kejelasan berita dengan adanya audio visual. Dalam arti, media internet memiliki peranan penting memberikan informasi dan menggabungkan antara media televisi serta surat kabar. Selain itu, kemudahan mendapatkan informasi secara cepat lebih bisa diandalkan. Peningkatan pengetahuan secara umum fashion juga mudah didapat dengan adanya internet. Yang tidak kalah pentingnya, internet menyediakan unsur feedback kepada komunikan di bagian komentar.
Berawal dari sebuah keisengan semata dan diikuti oleh banyaknya inspirasi dari kalangan designer busana muslim seperti Dian Pelangi, Jenahara Nasution, Rabbani, Tuneeca, Fenny Mustafa, dan Errin Ugara membuat kaum hawa terpukau dan akhirnya menjadi bagian followers. Selain itu pula, era saat ini telah banyak mengantarkan setiap orang untuk berperilaku kreatif. Namun, sayangnya kekreatifan ini tidak diikuti dengan karakteristik yang kuat sehingga semua orang dapat mengeksplorasi karya fashion yang sudah ada dan sedikit dimanipulasi. Hingga hampir semua perempuan yang berjilbab telah mengikuti gaya hidup yang konsumtif dan ingin terlihat fashionable. Walaupun banyak dari mereka yang menggunakan busana tertutup akan tetapi tidak sepenuhnya memegang prinsip pakaian islam sesungguhnya. Hal ini disebabkan karena proses untuk belajar berhijab dan tuntutan zaman yang serba canggih dalam melakukan ritual kecantikan seorang muslimah.   
Keberadaan kaum hawa yang selalu memperlihatkan jilbab dengan mengandung kecantikan luar memang sangat jelas terlihat. Ditambah lagi, banyak bermunculan website-website yang mengundang kaum adam melihatnya dengan mata terbelalak. Tidak menyangka bahwasanya perempuan berjilbab jauh lebih cantik daripada yang tidak memakainya. Di tambah lagi dengan adanya karakter feminime yang sangat melekat untuk dijadikan simbol para hijabers yang sedang naik daun saat ini. Beberapa tren fashion di Internet dapat dilihat seperti blog, instagram, thumblr, Youtube, dan website resmi seperti Hijmi, World Muslimah, dan Hijab Style.
Dengan adanya internet, setiap perempuan muslimah berlomba-lomba baik itu hanya sekedar eksistensi maupun sharing tutorial penggunakan hijab seperti youtube. Biasanya perempuan muslim menggunakan jasa blogger, instagram, twitpic, website, maupun photoscape, dan lain-lain untuk memperlihatkan hijab style yang mereka miliki, tanpa ragu-ragu beberapa dari mereka selalu mengundang kaum muslimah untuk menghadiri acara-acara perempuan seperti pengajian dengan bantuan jejaring sosial, misalnya Twitter dan Facebook.
Namun di lain sisi, hal tersebut mengakibatkan masyarakat melihat hijab sebagai mode berpakaian bukan sebagai perintah agama. Banyak perilaku dari mereka yang belum mencerminkan perempuan soleha. Penggunaan hijab sebagai ketaatan muslimah menguap bahwa apa yang dipakainya maka itulah karakternya. Kekhasan hijab style tidak lagi dikaitkan dengan perintah berhijab tapi lebih dieratkan  hubungannya dengan tampil cantik. Kesan glamour juga bisa dilihat dari perhiasan yang mereka gunakan. Inilah yang menyebabkan fenomena hijab style dikategorikan sebagai mitos dalam kajian budaya modern. Keberadaan hijab style di Internet memicu para wanita berjilbab untuk meningkatkan aktualisasinya dalam berekspresi dan menonjolkan keindahan dengan bantuan make up tentunya. Mix and match outfit sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan penampilan agar tetap girly dan terkesan feminime.
Dari semua aspek positif yang dihadirkan media internet ada juga sisi kelemahannya yaitu komunikasi menjadi kurang efektif karena kita tidak bisa berinteraksi secara langsung dengan komunikator walau hanya sebatas umpan balik. Walaupun ada unsur tersebut, pengguna internet akan memberikan penjelasan singkat yang terkadang suka salah diartikan oleh beberapa orang dan mengakibatkan  komunikasi massa menjadi terganggu (noise). Beberapa berita yang telah dipublikasi biasanya sering di rekayasa/diedit terhadap isi beserta gambarnya. Kecanggihan teknologi Internet menjadikan seseorang malas beranjak dan menimbulkan addicted. Untuk itu diperlukan adanya pemikiran positif, pencermatan memahami konteks isi berita terutama politik dan sosial, serta pencarian informasi lebih lanjut untuk penambah referensi yang pada akhirnya relaitas sebuah berita akan terlihat jelas.  Apalagi foto yang tersebar sangat mudah untuk dimanipulasi. Berbagai penipuan juga sering tumbul akibat rasa ketidaksukaan seseorang terhadap media internet. 
Walaupun, keeksistensinya belum habis di makan waktu, ada beberapa golongan islam memberikan pendapat sekiranya busana muslim sekarang haruslah tertutup sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Hal ini menyebabkan orang-orang islam menyakini jika busana muslim sekarang bukan untuk menutupi namun membungkus. Arti membungkus yakni hanya tertutup aurat dan masih menyimpang dari ajaran islam yang sesungguhnya. Pandangan fashion tidaklah sesuai dengan pandangan islam yang sesungguhnya karena Islam adalah Agama yang Idealis Objektif, yakni realitas terdiri atas ide-ide, fikiran-fikiran, akal (mind) atau jiwa (selves) dan bukan benda material dan kekuatan. Agama yang tak lekang oleh zaman akan ajaran-ajarannya, tidak ada penekanan dalam pengembangan-pengembangan ajarannya selama tetap berdasaar pada Al Quran dan Hadist. Fashion khususnya Hijab/Jilbabpun memenuhi kriteria pengembangan tersebut dan secara garis besar trend menggunakan jilbab yang modis dan tetap menarik.
Selain kritik terhadap busana muslim saat ini, ternyata budaya eksistensi maupun popularitas juga tidak dianjurkan oleh para petinggi muslim, kecuali untuk berdakwah. Dalam hal ini, budaya modernisasi dari pengaruh hijab style dianggap kurang tersistematisasi dalam berdakwah karena ada beberapa hal yang masih dianggap busana muslim yang melanggar aturan Al-Quran. Namun, kebanyakan orang berambisi ingin kondang dan tenar. Keinginan ini sering kita temukan pada para artis. Namun orang yang tahu agama pun punya keinginan yang sama. Ketenaran maupun eksistensi juga selalu dicari-cari oleh seluruh manusia termasuk orang kafir. Akhirnya, berbagai hal yang begitu aneh dilakukan karena ingin tenar dan tersohor misalnya berusaha memecahkan rekor MURI karena satu tujuan yaitu tenar/eksis. Sungguh hal ini sangat berbeda dengan kelakukan ulama salaf yang selalu menyembunyikan diri mereka dan menasehatkan agar kita pun tidak usah mencari ketenaran.
Selain itu, islam tidak dapat memberi toleransi terhadap kaum muslim untuk meningkatkan eksistensi selain tujuannya baik dan berlandaskan ketentuan islam. Sekarang yang menjadi pertanyaannya mengapa banyak hijabers yang berusaha meningkatkan eksistensi di dunia maya dengan mengupload foto maupun video tutorial. Walaupun tujuannya baik, namun belum berarti itu sudah menjadi landasan islam yang benar. Mengapa? Karena banyak yang lebih menekankan keinginan apresiasi dari orang lain maupun kecantikan yang dimilikinya. Karena bagi kaum wanita kecantikan itu sudah lumrah mendarah daging untuk dipertunjukkan bukannya untuk dijaga atau ditutupi.
Style hijab masa kini memang sekilas sangat mengemberikan karena banyak wanita muslimah yang dulunya tidak berhijab kini mulai memperhatikan masalah ini. Selera pakaian wanita memang dari tahun ke tahun selalu mengikuti trend yang sudah ada. Tahun 2012 ini, hijab menjadi fenomena. Memang dalam syariat Islam sendiri seorang wanita dewasa diwajibkan untuk menutup aurat. Aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Seperti yang dilansir dalam salah satu situs Islam bahwa "Para Muslimah (Wanita Islam) seharusnya menyadari, potensi pada diri mereka bukanlah sekadar fisik. Jika Allah SWT menganugerahkan wajah cantik, fotogenik dan bodi aduhai, bukanlah untuk dieksploitasi. Islam telah melarang wanita melakukan tabaruj (menampakkan perhiasannya). Dengan kata lain, tabaruj adalah hukum lain yang berbeda dengan hukum menutup aurat dan hukum wanita mengenakan kerudung dan jilbab.
Kenyataan zaman ini adalah kebanyakan hijab yang populer di Indonesia itu tidak syar’i. Walaupun begitu, bukan berarti hijab-hijab tersebut itu dimusnahkan sama sekali hingga hanya ada hijab syar’i yang cenderung kurang populer. Jika itu terjadi, tidak ada orang yang tertarik memakai hijab sama sekali. Ada satu keuntungan ketika hijab menjadi suatu yang populer walaupun itu tidak syar’i. Dengan populernya hijab, diharapkan banyak orang yang tahu dan tertarik menggunakan hijab. Siapa tahu, hijab fashion itu memotivasi muslimah yang belum berhijab untuk menggunakannya. Mungkin pada awalnya hanya sebatas tertarik untuk memakai tanpa tahu esensi memakainya, tapi itu tidak masalah.
Selain itu, JILBAB  telah menjadi fenomena busana perempuan dalam keseharian masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Tradisi berjilbab ”terlepas dari pro kontra” pada awal kemunculannya dianggap menjadi penanda dan penegas identias keberagamaan seorang perempuan. Simbol dan Virtual, bagi sebagian perempuan, jilbab tak lagi menjadi simbol religius. Alih-alih untuk menjalankan syariah Islam, jilbab kini digunakan untuk menyembunyikan wajah dari sorot mata publik. Jilbab tidak hanya berfungsi sebagai simbol identitas religius, tetapi telah memasuki ranah-ranah budaya, sosial, politik, ekonomi, dan bahkan gaya-modis. Dalam konteks ini, jilbab menjadi medan interpretasi yang penuh makna. Pesan yang muncul bukanlah kesadaran penegasan identitas keberagamaan, tetapi lebih pada kebohongan visual yang mampu bernegosiasi dengan ruang dan waktu.
Pada wilayah inilah sebenarnya telah terjadi pergeseran makna dalam berjilbab. Ada yang menarik sebagai identitas religius, tradisi, ideologi, dan juga sebagai simbol resistensi kultural. Negosiasi lewat media massa dan juga teknologi industri, telah membuat jilbab tampil dalam pusaran ruang publik dan visual yang lebih longgar. Dalam konsep semiotika visual, kevalidan makna visual dapat diuji melalui beberapa aspek. Kajian ini tidak hanya dilihat dari segi makna suatu tanda, juga bukan sekadar mempelajari simbol, namun lebih cenderung pada kajian relasi tanda-tanda.
Seperti yang sudah penulis uraikan diatas, kecenderungan anggota komunitas untuk membentuk pribadi secara kolektif ditujukan untuk menguatkan kepercayaan dirinya. Ini sebuah upaya defence mechanism dari anggota komunitas tersebut. Pengaruh budaya luar dan perkembangan mode dunia mempengaruhi gaya para hijabers. Dalam zaman informasi, perkembangan media massa, media elektronik dan New Media, sangat mempengaruhi perkembangan komunitas ini. Bulan Ramadhan lalu, bisa menjadi potret bagaimana media benar-benar menaikkan pamor hijabers.
Tren dihubungkan dengan kebutuhan religius umat Islam pada masa itu, jadilah kebutuhan massa diakomodir oleh media. Komunitas Hijabers begitu diekspos, mulai dari kegiatan mereka, cara memakai jilbab yang trendy, sampai dengan pola pemasaran jilbab yang lagi trend dibahas  dengan begitu menarik. Kehendak media dalam mengkontruksi masyarakat memicu lahirnya tren berjilbab yang stylish. Dampaknya bisa dilihat dari menjamurnya model-model jilbab baru. Para wanita muslim turun ke etalase toko-toko untuk mencari jilbab tersebut.
Nampaknya budaya islam sekarang lebih mengkiblatkan fashion busana muslim agar semua wanita dapat menutupi dirinya dari balutan kain yang tertutup, panjang, dan lebar. Adakalanya tindakan yang dilakukan hijaber benar adanya, karena buktinya semua kegiatan pemasaran pakaian hijab mulai banyak dilirik orang, selain itu kuatnya persuasive bahwa barangsiapa seorang muslim yang sudah baligh sudah seharusnya menutupi diri dengan hijab. Tanggapan ini juga banyak direspon secara positif sebab terbukti, saat ini sudah banyak perempuan yang hobi dengan gaya berjilbab dan kemudian mereka mencintai hijabnya serta berusaha menjaga diri dari bahaya. Selama memasuki pemrosesan, saya yakin mereka akan tetap terus meningkatkan keimanan dan ketakwaannya terhadap Allah SWT.   
III.      Penutup
a.      Kesimpulan
Dari landasan pengetahuan bahwa trend fashion dari tahun ke tahun berubah. Para kelompok hijaber juga mulai beradaptasi dengan trend yang muncul dari pasaran. Memadukan berbagai macam pakaian yang lain untuk tampil up to date, atau fashionable. Sebuah respon pasar yang menurut teori ekonomi bahwa "Produk yang dihasilakan produsen tergantung permintaan pasar". Terlebih lagi, fenomena ini seakan menjadi luar biasa pula karena banyaknya di unggah ke dalam bentuk video tutorial bagaimana cara berhijab. Ini memang tidak lepas dari peran media.
Jadi, style hijab masa kini adalah hasil permintaan konsumen yang didahului dengan propaganda media. Pandangan yang Benar seperti yang dilansir dalam salah satu situs Islam bahwa "Para Muslimah (Wanita Islam) seharusnya menyadari, potensi pada diri mereka bukanlah sekadar fisik. Jika Allah SWT menganugerahkan wajah cantik, fotogenik dan bodi aduhai, bukanlah untuk dieksploitasi.
Islam telah melarang wanita melakukan tabaruj (menampakkan perhiasannya). Dengan kata lain, tabaruj adalah hukum lain yang berbeda dengan hukum menutup aurat dan hukum wanita mengenakan kerudung dan jilbab.
Walaupun seorang wanita telah menutup aurat dan berbusana syar’i, namun tidak menutup kemungkinan ia melakukan tabaruj. Allah SWT berfirman: “Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti haid dan kehamilan yang tidak ingin menikah lagi, tidaklah dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka (jilbab, red) tanpa bermaksud menampakkan perhiasannya (tabaruj).”[al-Nuur: 60]"
Fashion dapat berkontribusi bagi hijab syar’i menuju popularitasnya, namun usaha untuk mencapai itu tidak mudah. Semoga ada pelopor desainer hijab syar’i yg mempopulerkannya. Ketika semakin banyak desainer hijab syar’i, hijab yang benar pun jadi populer. Dengan populernya hijab syar’i, semakin banyak muslimah yang ingin berhijab dengan syar’i. Itu menjadi bukti bahwa hijab syar’i tidak selalu menjadi lawan dari fashion karena hijab syar’i sendiri dapat menjadi fashion. Dunia akan indah ketika muslimah di seluruh dunia dapat mengikuti fashion tanpa harus mengabaikan hal yang syar’i. 
b.      Saran
Sebagai kaum yang menggunakan hijab, sebaiknya pergunakan hijab style yang syar’I, yakni dengan cara tidak menggunakan pakaian berwarna terang, transparan, maupun tipis, dan ketat.  Untuk meningkatkan eksistensi akan lebih baik dilakukan dengan cara memperbanyak tulisan – tulisan dengan maksud tujuan berdakwah di blog misalnya. Aturan mengikuti trend fashion ada baiknya juga namun jangan dimasukkan unsur kebudayaan luar menjadi mitra fashion busana muslim karena akan terlihat  lebih menyimpang dari Al-Quran.
Dengan memakai hijab walau belum syar’i, muslimah yang baru memakai hijab semakin lama akan merasa nyaman dan berpikir bahwa hijab adalah suatu pelindung baginya. Itu terjadi jika dia masih menerima hidayah Allah. Setelah memakai hijab juga, diharapkan mereka akan menyadari apa esensinya, termasuk kewajiban bagi muslimah untuk berhijab dan hijab yang benar itu seperti apa. Ketika sudah paham, dia akan mengubah style berhijab dari yang belum syar’i menjadi hijab yang syar’i. Proses itu tidak lepas dari peran muslimah dengan hijab syar’i dalam memahamkan mereka dan tentu saja hidayah dari Allah. Butuh proses yang bertahap pula karena perubahan menjadi lebih baik tidak seperti membalikkan telapak tangan.
Daftar Pustaka
·         Dominic, Strinati. Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Jogjakarta :Arruz Media. 2010.
·         Ilyen. Apa Itu Hijab? http://ilyen.wordpress.com (diakses tanggal 12 April 2013)
·         Pratiwi, Ines. Perkembangan Media Internet Pada Komunikasi Massa. http://inespratiwi.blogspot.com/ (diakses 13 April 2012)
·         Shabrina, Langit. Hijab Style : Mitos Baru Dalam Berjilbab di Indonesia. http://langitshabrina.wordpress.com (diakses tanggal 12 April 2013)
·         Suara Merdeka. Perempuan, Jilbab, dan Kebohongan Visual. http://www.suaramerdeka.com (diakses tanggal 12 April 2013)
Indeks
Daftar Link Fashion Busana Muslim

dan lain-lain

0 comments :

Post a Comment

 
Ines Pratiwi © 2012 | Designed by Ines Pratiwi
,